
Anggaplah suatu saat anak saya mulai mempertanyakan berbagai hal secara kritis. Mungkin juga tentang agama, termasuk tentang puasa.
"Abi, Muadz ingin bertanya:
Kenapa kita harus berlapar-lapar saat puasa? Jika Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, kenapa Dia meminta kita menahan lapar dan haus seharian? Bukankah rasa lapar itu menyakitkan dan membuat kita lemah? Dan bagaimana bisa puasa membawa manfaat jika justru membuat kita merasa lemah sepanjang hari?"
Saya jadi berpikir mencari jawaban yang mungkin bisa masuk akal baginya. Dan bukan hanya sekedar karena itu perintah agama.
Beginilah kira-kira jawaban yang saya pikirkan.
"Anakku, pernahkah kamu berpikir mengapa kita harus berpuasa? Bayangkan dunia ini penuh dengan kenikmatan—makanan enak, kesenangan tak terbatas, dan semua orang bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan dengan mudah.
Tetapi, jika kita selalu mendapatkan semua yang kita mau tanpa pernah menahan diri, apakah kita benar-benar menghargai apa yang kita miliki? Apakah kita masih bisa merasakan makna syukur dan disiplin?"
"Sekarang coba pikirkan ini: manusia sering kali dikuasai oleh hawa nafsu. Kita ingin makan kapan saja, ingin tidur terus-menerus, ingin marah jika ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Jika kita tidak pernah melatih diri untuk mengendalikan keinginan itu, bukankah kita seperti hamba yang diperbudak oleh hawa nafsu sendiri?
Dunia saat ini penuh dengan orang yang kehilangan kendali atas dirinya—makan berlebihan, tidak bisa fokus, dan cepat marah. Mereka bukanlah orang yang benar-benar bebas, melainkan dikendalikan oleh keinginan mereka sendiri."
"Puasa adalah jawaban dari semua itu. Tuhan tidak sekadar menyuruh kita untuk berlapar-lapar, tetapi mengajarkan kita sebuah latihan pengendalian diri yang luar biasa.
Dengan puasa, kita belajar bahwa kita lebih kuat dari keinginan kita sendiri. Kita tidak harus makan setiap kali merasa lapar, tidak harus marah setiap kali tersinggung, dan tidak harus mengikuti semua keinginan sesaat yang muncul dalam diri kita. Kita bisa menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih bersyukur."
"Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, kedisiplinan, dan empati. Lihat bagaimana Tuhan merancangnya: kita tidak hanya berhenti makan, tetapi juga menahan diri dari kebiasaan buruk—dari kemarahan, dari berkata kasar, dari perilaku yang tidak baik. Kita juga disuruh lebih banyak berbuat baik, lebih banyak berbagi, dan lebih banyak mengingat makna hidup ini."
"Ini adalah strategi pembelajaran yang luar biasa. Tuhan tidak hanya memberi teori, tetapi memberi kita latihan langsung setiap hari selama satu bulan penuh!
Dalam dunia modern pun, para pelatih hebat selalu mengatakan bahwa kebiasaan baru butuh waktu untuk dibentuk. Tuhan sudah menyiapkan program latihan 30 hari untuk kita agar kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri."
"Mulailah dengan niat yang kuat. Ketika rasa lapar datang, sadari bahwa itu bukan hanya ujian fisik, tetapi juga latihan mental. Saat ingin marah, ingat bahwa ini adalah kesempatan untuk melatih kesabaran. Saat melihat orang lain lapar dan miskin, biarkan hati kita belajar untuk lebih peduli dan berbagi.
Setelah Ramadan, jangan biarkan pelajaran ini hilang begitu saja. Jadikan puasa sebagai batu loncatan untuk hidup yang lebih baik, lebih disiplin, lebih bersyukur, dan lebih sadar akan diri sendiri."
"Jadi, anakku, puasa bukanlah sekadar ritual kosong. Ini adalah cara Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih penuh makna dalam menjalani hidup."
Batam, 1 Ramadhan 1446/ 1 Maret 2025
← Kembali ke semua tulisan