Setiap orang pasti ingin dikenang. Tapi bagaimana caranya?

Saya sadar, waktu berjalan cepat, dan ingatan manusia tak selamanya abadi. Jika saya tidak menulis, apakah saya akan hilang begitu saja?

Saya teringat sebuah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Saya ingin meninggalkan warisan bagi anak kerunan saya—tulisan yang bisa ia baca kelak. Bukan sekadar cerita, tapi pengalaman, hikmah, dan nilai hidup yang bisa ia ambil langsung dari orang tuanya.

Menulis juga menjadi cara saya berdialog dengan diri sendiri. Kadang pikiran terasa penuh, berantakan, dan sulit dimengerti. Dengan menulis, saya bisa merapikan semuanya. Saya ingin menjadikan tulisan sebagai ruang meditasi, tempat saya berpikir lebih jernih dan tidak tenggelam dalam pikiran yang tak teratur.

Lebih dari itu, menulis adalah latihan berpikir. Saya ingin terbiasa menyusun gagasan secara logis, melihat masalah dengan lebih jernih, dan merangkai solusi lewat kata-kata. Jika saya bisa merangkai ide dalam tulisan, saya pun akan lebih mudah menyampaikannya apa yang menurut saya patut untuk dibagi.

Mungkin saya tidak akan hidup selamanya. Tapi tulisan saya bisa. Dan jika ada satu saja orang yang mendapat manfaat dari kata-kata saya, maka saya percaya, menulis bukan sekadar aktivitas—melainkan ladang amal jariah yang terus mengalir.

Inilah langkah pertama.

← Kembali ke semua tulisan