
Sepulang dari kerja sore itu, saya langsung singgah shalat magrib di Masjid terdekat. Lalu mampir makan di rumah makan padang yang banyak bertebaran di sekitar tempat kami nge-kos.
Setelah makanan tersaji, di atas meja mata saya tertuju ke sayur berwarna hijau yang sudah berubah warna karena pasti terebus air panas. Daun ubi.
Sejenak saya terdiam dan langsung mengingat pada Ibu. Sayur daun ubi atau singkong itu mengingatkanku padanya.
Sejak kecil inilah salah satu sayur favorit kami. Bahkan setelah berpisah karena kuliah di kota saat itu, sayur itu kerap dibuatkan dengan sengaja olehnya karena tahu kami kerap mencari masakan khas itu.
Itulah mungkin yang meyakinkan kami anak-anaknya betapa dia menyayangi kami. Walaupun kadang tak sempat terucap.
Wajah Ibu hadir serasa di depanku. Seolah ia berjalan membawakan segelas air ke arahku. Ingatan akan Ibu yang jauh di seberang pulau Celebes makin kuat. Mengingat guratan wajahnya dan tangannya yang seolah tak pernah berkata lelah.
Daun ubi itu mengingatkanku padamu, Ibu. Tapi sayang, rasanya daun ubi ini tak seenak masakan Ibu. Ah... Tiba-tiba mataku berkaca-kaca.
← Kembali ke semua tulisan