Di suatu masa. Di ruang tamu rumah kami riuh rendah suara anak-anak mengaji. Sekitar dua puluh anak duduk melingkar, memegang buku ngaji masing-masing, berlomba siapa yang paling nyaring membaca. Di tengah lingkaran itu ada sosok Bapak—ayah saya sendiri—dengan sabar mendengarkan satu per satu bacaan anak-anak itu. Ibu, yang kami panggil Mama’, juga ikut membantu.
Tapi ada satu yang hilang dari lingkaran itu: saya, anaknya sendiri.
Sore itu saya lebih memilih menepi di kamar lain. Bete? Iya. Malas? Pasti. Saat itu saya pikir, “Apa sih susahnya bolos sekali?” Tapi tentu, bagi Bapak yang menghabiskan separuh hidupnya sebagai pendidik, alasan saya tak hadir itu sewajarnya jelas perkara yang tak patut.
Rotan dan Harga Diri Orang Tua
Cerita ini akhirnya berjudul “rotan”. Ya, rotan. Kata yang hari ini pasti bikin heboh kalau masuk headline berita. Tapi zaman dulu, rotan itu biasa saja. Bahkan bisa dibilang, rotan adalah salah satu “guru” kami—tegas, sedikit menyakitkan, tapi penuh makna.
Jadi begini: ketika akhirnya Bapak tahu anaknya sendiri bolos mengaji, rotan pun bicara. Saat ini jika mengingat lagi momen itu, tentu saya yakin hal tersebut bukan karena beliau benci, tapi justru karena sayang. Bapak tak pernah marah berlebihan, hanya satu pukulan singkat, tapi cukup membuat saya sadar. Bukan sakitnya yang saya ingat, melainkan rasa malu yang menyeruak di hati:
“Masa, anak seorang guru malah bandel? Apa kata dunia?”
Dan sejak hari itu, saya kapok. Saya tak pernah lagi bolos mengaji. Di sekolah pun, saya tak pernah bolos. Soalnya, di sekolah juga ada guru yang membawa rotan, hehe...
Pelajaran Berharga
Bapak—yang juga seorang pendidik (pernah menjadi guru, kepala sekolah dan terakhir Kepada Diknas Kecamatan)—adalah orang yang saya kagumi. Beliau mendidik kami delapan bersaudara dengan penuh dedikasi. Rotan hanyalah satu alat kecil dalam perjalanan itu, tapi pelajaran yang beliau berikan jauh lebih besar.
Dari Bapak, saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar soal membaca buku, tapi juga membaca kehidupan. Bagaimana menjadi manusia yang tahu mana benar, mana salah. Bagaimana memahami bahwa cinta orang tua kadang datang dalam bentuk yang keras, tapi selalu penuh harapan.
Tinggal Kenangan
Hari ini, Bapak sudah tiada. Jumat subuh, 8 Desember 2017, beliau meninggalkan kami untuk selamanya. Tapi ajarannya—dan bahkan rotan itu—tetap hidup dalam ingatan.
Terima kasih, Bapak. Semoga amal jariyah dari semua ilmu yang engkau ajarkan terus mengalir kepadamu. Amin.
*(Permak ulang dari catatan 7 tahun yang lalu).
